CERPEN - MIMPI
MIMPI
Karya : Ratu Syifa Fatqi Az Zahra
Hari ini aku bertamasya bersama teman sekolahku. Kami pergi ke Happy World. Semacam tempat rekreasi yang memiliki banyak wahana seperti waterboom, istana boneka, aquarium yang besar, museum, dan taman bunga matahari. Kami pergi kesana menggunakan bus sekolah. Perjalanan dari sekolah menuju Happy World sekitar dua jam.
Namaku Tatisa Maharani. Teman sekelas memanggilku Tisa. Aku kelas 6A dan menjabat sebagai sekertaris kelas. Hari ini merupakan Studytour terakhirku karena sebentar lagi aku akan lulus SD.
Tujuan pertama kami menuju Istana Boneka. Kami melewati banyak toko suvenir. Kami pun memutuskan untuk membeli beberapa suvenir seperti gantungan kunci, kaos, dan boneka. Aku membeli kaos dan gantungan kunci sedangkan Nadia membeli boneka untuk adiknya. By the way, Nadia itu teman sekelasku.
Akhirnya kami sampai di Istana Boneka. Tempatnya sangat ramai dan banyak yang mengantre. Biaya masuknya lima belas ribu rupiah.
Setelah mengantre sepuluh menit akhirnya kami pun berhasil masuk kesana. Tempatnya sangat luas dan bersih. Desainnya pun sangat indah dan berwarna-warni. Berbagai jenis boneka ada di sana bahkan ada yang berasal dari luar negri.
“Nad liat, bukannya ini boneka Darwin ya?”
“Darwin yang mana? Aku lupa.” Tanya Nadia.
“Itu loh tokoh kartun dari The Amazing World Of Gumball.”
“Oh iya, yang warna kuning ya, kalau tokoh Gumball yang warna biru bukan sih?”
“Iya, yang warna biru.”
Kami sangat senang di Istana Boneka. Banyak boneka lucu dan berwarna-warni. Kami berkeliling dan berfoto dengan berbagai jenis boneka.
Sekitar pukul empat sore kami pun pulang. Saat diperjalanan aku pun tertidur dan bermimpi. Di dalam mimpiku ada sebuah makhluk berwarna biru dengan rambut abu abu muda, tingginya sekitar 15 cm. Makhluk itu berbicara padaku dan seperti mengajakku ke suatu tempat.
“Hai Tisa, perkenalkan namaku Rubi. Saat ini kamu berada di dalam gerbang menuju Rainbow Village.” Kata makhluk itu.
“Hah?? Bagaimana aku bisa disini?” Tanyaku heran.
“Sudah, ikut aku saja. Aku jamin kamu akan senang saat melihat desaku.” Kata Rubi.
Rubi menggenggam tanganku dan menarikku ke dalam lubang hitam itu. Lubang itu dipenuhi dengan bunga berwarna-warni dan campuran warna seperti pelangi. Akhirnya kami pun menginjakkan kaki di atas rumput berwarna merah muda. Saat aku membuka mata, tinggi tubuhku sama dengan Rubi. Aku melihat banyak makhluk seperti Rubi tetapi dengan warna berbeda.
“Rubi, mengapa makhluk di sini tidak memiliki warna sepertimu?” Tanyaku heran.
“Karena setiap warna memiliki tugasnya masing-masing. Seperti makhluk yang berwarna biru itu, dia bekerja di bagian perairan. Warna kuning bekerja di bagian kesenian dan desain, warna hijau bekerja di bagian tumbuhan, warna nila bekerja di bagian makanan, dan warna ungu dibidang perdagangan.”
“Berarti kamu bekerja di bagian perairan ya? Lalu warna merah bagaimana?”
“Iyaa, aku bekerja di bagian perairan tepatnya di sungai. Kalau warna merah, mereka adalah pemarah, suka mencuri, dan membuat keributan. Lebih baik kamu jangan terlalu dekat dengan warna merah.” Kata Rubi
Rubi mengajakku berkeliling desanya. Desa ini sangat indah dan udaranya pun bersih. Aku melihat semua warga desa bergotong-royong, walaupun mereka memiliki warna berbeda dan pekerjaan yang berbeda. Warganya pun sangat ramah dan murah senyum. Bunga yang ada di sini bentuknya lumayan aneh, ada yang berwarna merah dengan kelopak bunga seperti rambut halus berwarna ungu dengan tangkai yang berwarna hitam.
Di tengah perjalanan kami melihat keributan. Ternyata ada dua warga merah yang sedang berkelahi karena memperebutkan sebuah ikan hasil curian. Tubuh meraka terlihat luka-luka hasil perkelahian. Saat warga sedang lengah, salah satu dari mereka ada yang berlari menuju ke arahku. Saat itu, aku melihat sebuah pisau di balik rompinya. Aku pun kaget dan saat melihat ekspresinya, dia berekspresi penuh amarah dan dendam. Saat itu aku langsung berjalan mundur namun…
“Sa bangun! Kita udah sampe sekolah. Kamu pules banget tidurnya.” Kata Nadia.
Syukurlah ini hanya mimpi.
Comments
Post a Comment